Malam yang kelam kududuk sendiri didalam kamar kecilku, Kuselalu menantikan sebuah pertemuan Kucoba memejamkan bola mataku Dan beristirahat sejenak Namum mimpiku membawaku kealam yang begitu indah Berjalannya dengan waktu Kau hadir dihadapanku Dan kau memeluk diriku Aku sunggu bahagia Namum mimpiku hanya sesaat saja Sebuah pertemuan yang singkat Namun aku bahagia Dengan berjalannya waktu Ternyata aku tidak sadar Bahwa pagiku telah tiba Dan memancarkan cahaya matahari yang begitu indah
Kau mencintainya dengan mubazir Mengulur-ulur waktu untuk bahagia Bertahan bertahun-tahun dalam luka Pesaan setanggu apa yang kau punya Kau mencintainya dengan mubazir Menunda-nunda melanjutkan hidup Bertahan terus dalam rasa kalut Hati siapa yang sedang kau jaga Kau mencintainya dengan mubazir Enggan berdamai dengan diri sendiri Memaksakan diri memiliki hingga nanti Padahal jelas suda dia tak lagi bergaira Mau sampai kapan mengurung diri dalam semu Menanam begitu sepi didalam dadamu Aku tahu yang kau pertahankan itu tak ada Kau hanya sedang menabur derai hujan luka Kau mencintainya dengan mubazir Sepanjang tahun tak berganti rasa Sebanyak langka yang kau dapatkan duka Namum kau betah tenggelam lama-lama
Disudut langit warna memancar menembus kabut Disana ada ribuan cahaya Yang menghiasi hitam saat hari tenggelam Disudut langit kusimpan rindu untuk seorang hamba yang jauh rimbahnya Disudut langit Bintang-bintang menari bersama dingin Sepi dan sunyi mendukung malam hingga subuh Menanti sang surya kembali Disudut langit bintang Bintang dan bulan bersama bercengkarma dalam jarak Hingga jasad tak bisa merangkuh Disudut langit bintang bercumbu dingin
Maka merendahlah sampai tak ada satupun yang dapat merendahkanmu😊
BalasHapus